header image

STATUS PERALIHAN PENYELENGGARAN PENDIDIKAN DARI YPC KE YPKN

Kebijakan PT. Kertas Nusantara untuk memutuskan kerjasama Penyelenggaraan Pendidikan oleh YP. Cikini dan berencana menyelenggarakan pendidikan sendiri dengan mendirikan YP. Kertas Nusantara dengan program pendampingan dan alih kepakaran oleh Sekolah Athirah.

Pemutusan Penyelenggaran Pendidikan antar 2 (dua) lembaga yaitu PT. Kertas Nusantara & YP Cikini Jakarta tersebut masih menyisakan persoalan yang berimbas belum terbayarnya pesangon dan hak-hak lain yang sudah tertuang dalam perjanjian antar kedua belah pihak.

Secara hukum YPKN telah mendapat legalitas ijin pendirian Yayasan Pendidikan melalui Akte Notaris yang disahkan Menhumkam, namun Ijin Operasional, Akreditasi dan Dana BOSDA, tidak menutup kemungkinan akan menjadi suatu masalah apabila proses Pemutusan dan Peralihan tersebut belum selesai dengan baik.

Sehubungan dengan ketiga hal di atas, Orang Tua Murid dalam forum POMG memberikan catatan penting sebagai berikut :

  1. Sekolah di lingkungan perusahaan ini didirikan sebagai FASILITAS KARYAWAN dan tujuan COMMUNITY SOCIAL RESPONSIBILITY sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat sekitar agar mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu, sehingga Misi & Visi perusahaan tersebut harus tetap dijaga dan tetap seperti tujuan awal.
  1. Harapan Orang Tua untuk bersekolah di YPKN tidak dilakukan Tes, namun tetap melakukan SELEKSI AKADEMIK sesuai ketentuan pemerintah dengan memberikan kesempatan 2 (dua) kali bagi siswa yang tinggal kelas/tidak naik kelas.
  1. Sekolah diharapkan tetap menerima dan mengelola Dana BOSDA sehingga tidak membebani orang tua, dalam hal pembelian buku-buku pengayaan & buku-buku untuk peningkatan mutu dan tujuan untuk Ujian Nasional, orangtua secara sadar ikut mendukung.
  1. Sekolah diharapkan tetap menjaga dan saling menghormati tolerasi beragama & kegiatan-kegiatan keagamaan dan dengan kerendahan hati,saling menghargai dalam hal komunikasi antara Yayasan, Perusahaan dan Orang Tua Murid.
  1. Sehubungan dengan rencana YPKN menyenggarakan Rapat Kerja, diharapkan orang tua melalui wakil-wakil yang ditunjuk oleh forum POMG, dapat ikut berperan serta dalam Raker tersebut sehingga dapat memberikan masukan terhadap program sekolah & kualitas mutu pendidikan dari PAUD,TK,SD,SMP dan SMU.

 

MASUKAN & SUMBANG SARAN SERTA PEMIKIRAN ORANG TUA

  1. YP. Cikini telah terbukti memberikan Prestasi yang cukup baik dengan biaya pendidikan gratis bagi karyawan dan masyarakat.
  1. Harapan orang tua agar YPKN bisa lebih baik kualitasnya dengan tetap tanpa ada pungutan biaya pendidikan dari orang tua. Kalaupun diperlukan partisipasi dari orang tua diharapkan dalam jumlah yang tidak besar dan insidentil sifatnya.
  1. Agar YPKN menghindari jauh-jauh kepentingan pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan pendidikan yang lebih baik.
  1. Melihat kemungkinan belum tuntasnya proses pemutusan kerjasama penyelenggaraan pendidikan YP Cikini, maka disepakati agar orangtua tetap peduli ”mendampingi secara moral” para guru yang belum mendapatkan hak-haknya dengan ikut memberikan masukan dan sumbangsih pemikiran-pemikiran.
  1. Saat ini, yang melakukan pendampingan YPKN kedepan adalah Sekolah Athira saja. Memperhatikan proses pemutusan yang ternyata belum tuntas, seyogyanya YP. Cikini Jakarta dilibatkan juga dalam pendampingan selama 1 (satu) tahun ke depan dengan harapan dapat mempermudah proses perolehan Ijin operasional, akreditasi, dan penyelesaian hak-hak guru yang memutuskan untuk tidak bergabung.
  1. Pemakaian Buku BOSDA disarankan oleh pemerintah dan tidak dibebankan kepada orang tua murid.
  1. Para orang tua murid bersedia melaksanakan Program Tabungan Siswa, yang bisa digunakan sebagai Dana Talangan apabila Dana Operasional sekolah baik dari Dana BOSDA/BOS Pusat & Dana Yayasan dari Perusahaan belum/terlambat terealisasi.  Dengan program ini diharapkan pula siswa menjadi hemat dan gemar menabung.  Pada akhir kelulusan tabungan ini bisa diambil kembali oleh siswa tersebut.
  1. Perusahaan & YPKN diharapkan tidak melupakan sejarah yang telah disampaikan kepada masyarakat sehubungan dengan penyelenggaraan pendidikan di Mangkajang yaitu Sekolah Murah untuk karyawan dan masyarakat, dan pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Berau. Ketua DPRD dan pemuka mayarakat lainnya.

 

Mangkajang, 30 Juni 2012

 

Ketua POMG

Handoyo Gunawan


 

under: Bulletin POMG

Drs. Edi Sutarto, M.Pd

Posted by: | Mei 23, 2012 | No Comment |

Drs. Edi Sutarto, M.Pd. adalah Kandidat Doktor di Universitas Negeri Jakarta. lahir di Slawi, sebuah kota kecil yang terkenal dengan tehnya. Tepatnya di selatan kota Tegal yang tenang dan dihuni oleh masyarakat yang penuh dengan gotong royong, pekerja keras, dan keinginan belajar yang tinggi.

Setelah lulus S1 dari IKIP Negeri Jakarta, pada 1992 saya diberi tugas oleh Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk bergabung dengan Sekolah Islam Al-Izhar Pondok Labu, atas permintaan direkturnya. Di sekolah ini, saya langsung menjadi anggota tim penyelenggaraan operasional SMP Islam Al-Izhar. Pada tahun yang sama, SMP ini diresmikan oleh Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. BJ. Habibie dan berkembang dengan baik hingga kini.

Tahun 1995 kembali dipercaya menjadi anggota tim peneyelenggaraan operasional SMA Islam Al-Izhar. Sebuah SMA yang dibuka untuk mengakomodir para alumni pertama SMP Islam Al-Izhar. Di tahun tersebut, SMA ini diresmikan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro. Sekolah ini juga berkembang dengan baik hingga sekarang. Yang paling menarik dari SMP dan SMA Al-Izhar adalah meskipun tergolong sebagai sekolah berusia muda, tetapi prestasi siswanya bermekaran dan seimbang antara akademik dan nonakademik. Sekolah ini tidak melebel dirinya sebagai sekolah internasional, tetapi kemampuannya bertaraf internasional. Banyak program yang diikutinya pada tataran internasional, baik oleh siswanya maupun oleh para gurunya.

Di SMA Al-Izhar, saya sempat dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Dua tahun saya belajar lebih dari banyak bagaimana mengelola kurikulum nasional namun berciri khas Al-Izhar. Satu tahun berikutnya saya dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Ini adalah satu tahun lebih yang penuh keindahan karena yang saya kerjakan langsung menyentuh wilayah siswa dengan dinamikanya. Lalu pada tahun keempat saya dipercaya menjabat sebagai Kepala SMA Islam Al-Izhar Pondok labu, tepatnya sejak 1998 hingga 2004. Dua periode memimpin SMA Al-Izhar, banyak hal yang dilakukan untuk pertumbuhan SMA ini. Yang paling membanggakan adalah bagaimana membuktikan banyak siswa yang mampu mendapatkan nilai sepuluh untuk beberapa mata pelajaran di Ujian Nasional dengan cara yang jujur. Membangun hubungan yang harmonis antarinsan Al-Izhar, juga merupakan pengalaman indah tersendiri yang sampai sekarang masih terasa dampaknya. Di mana orang tua murid sangat menghormati guru, guru sangat menghargai siswa, dan siswa sangat mencintai gurunya. Berbagai macam prestasi tumbuh dan mekar lantaran hal tersebut.

Di Al-Izhar Pondok Labu ini pula, saya mendapat pengalaman kehumasan tatkala duduk sebagai Kepala Bagian Humas. Usai menjadi Kepala Bagian Humas lalu menjabat sebagai Kepala Komunitas Pelatihan Pendidikan (KPP). Lembaga ini adalah lembaga yang menangani kendali mutu dan profesionalitas guru serta melayani para mitra kerja yang ingin belajar pada Al-Izhar, baik dalam bentuk observasi, pelatihan, maupun magang, bahkan jasa konsultan pendidikan.

Pengalaman dan kemampuan saya sebagai Ketua KPP membuat saya dipinang sebagai Program Officer oleh Yayasan Cahaya Guru (YCG) pada 2009. Yayasan ini didirikan oleh Prof. Dr. Imam Prasodjo (pakar sosiolog) dan Henny Supolo Sitepu, MA. (pemerhati dunia pendidikan dan hukum). Konsentrasi program yayasan ini prioritasnya adalah memberikan pelatihan peningkatan profesionalitas guru dan peningkatan sarana-prasarana sekolah di Indonesia.

Kiprah di perguruan tinggi, saya awali pada 2004. Saat itu saya dipinang oleh PD Satu FBS Universitas Negeri Jakarta, untuk mengampu mata kuliah Apresiasi Drama. Lalu tahun 2007 juga dipinang untuk mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (Kompas Group) dan di Universitas Trisakti. Tahun 2008 dipinang juga oleh Kaprog S1 Prasetia Mulya Business School. Mata kuliah yang diampu di perguruan tinggi selain Apresiasi Drama adalah Bahasa Indonesia (Penulisan Karya Ilmiah), Apresiasi Sastra, Kajian Naskah, Acting and Casting, dan Komunikasi Bisnis.

Kapasitas yang mampu membekali saya berkiprah sebagai dosen di UNJ adalah pengalaman sebagai Aktor di Teater Koma sejak 1994 dan menjadi pelatih serta mentor para aktor muda di Teater Koma sejak tahun 2000. Pengalaman dari Teater Koma ini pulalah yang kemudian membekali saya untuk membentuk karakter siswa Al-Izhar Pondok Labu melalui program pementasan drama. Dari sinilah awal kesuksesan pementasan drama di Al-Izhar sejak dari TK hingga SMA. Embrio pementasan-pemantasan di Al-Izhar memang sudah ada sebelum saya bergabung, tetapi penataan sistem dan peningkatan profesionalitas guru dalam bidang seni peran adalah saat saya berbagi ilmu yang saya dapatkan dari Teater Koma kepada insan Al-Izhar. Di TK dan SD pementasan drama menjadi program akhir tahun di setiap kelas, sedangkan di SMP dan SMA menjadi ajang Festival Tahunan dengan menghadirkan para nominator, mulai dari penulis naskah yang terbaik sampai sutradara yang terbaik. Dari program inilah siswa dimotivasi kepercayaan dirinya, kreativitasnya, kemampuan kerja samanya, dan lain sebagainya.

Sampai pada suatu masa muncul sebuah tanya “Haruskah saya menjadi Direktur sekolah Islam Athirah?” Pertanyaan ini, menghujam memenuhi ruang dada saya dengan sesak. Awalnya adalah di permulaan Januari 2011, saya di hubungi oleh Ibu Tini Moeis, Pimpinan PMK Consulting. Saat itu, yang terbayang oleh saya adalah kalau beliau menghubungi, berarti ada pekerjaan besar yang perlu melibatkan saya. Pasalnya, saya pernah bekerjasama dengan beliau untuk Proyek Sekolah Satu Atap kerja sama pemerintah Indonesia dengan Australia beberapa tahun sebelumnya. Benar saja, saat dialog di telepon, beliau menyampaikan pertanyaan, “Apakah Anda berminat jadi Direktur Sekolah Islam Athirah? Di Makassar.” Saya tidak segera menjawab, tetapi meminta beliau menjelaskan secara singkat mengapa PMK yang menjadi mediator dan mengapa Sekolah Islam Athirah mencari sosok direktur?

Sepanjang perjalanan menuju rumah dari kampus UMN BSD, tawaran dan penjelasan tersebut bagai pusaran air, menyedot perhatian saya dengan kuat. Bila menerima tawaran tersebut, yang terbayang oleh saya adalah harus meninggalkan Jabodetabek. Itu berarti, saya harus meninggalkan zona nyaman dengan berbagai aktivitas pengembanganku yang menyenangkan selama ini. Apa lagi di hari yang sama oleh Manajemen UMN yang dinahkodai Prof. Dr. Yohanes Surya, “Si Manuasia OSN” menawarkan kepada saya untuk menjadi dosen tetap di universitas ini.

Tawaran tersebut segera saya diskusikan dengan keluarga. Di luar dugaan, setelah membuat peta kekuatan dan kelemahannya, istri dan anak saya mendukung untuk menerima tawaran Ibu Tini Moeis. Tawaran ini menjadi tantangan besar, dan seperti biasanya, kami sekeluarga selalu tertarik dengan tantangan dan hal baru dalam dinamika hidup dan selalu berusaha menaklukan tantangan tersebut. Kami sepakat untuk menjajaki kemungkinannya.

Dua hari kemudian, Ibu Tini Moeis di ruang rapat PMK menjelaskan, bahwa KPI yang diharapkan oleh Direksi Kalla Group untuk kandidat Direktur Athirah adalah:

1. Peningkatan Mutu dan Kualitas Pendidikan (Keunggulan Akademik). Sasaran KPI: Sekolah Islam Athirah menjadi Sekolah Unggul yang kualitasnya akan disamakan dengan Sekolah Islam Al-Azhar atau sekolah Islam lain yang berkualitas setara di Jakarta (benchmark).

2. Peningkatan Mutu dan Kualitas Pendidik/Guru (dari beberapa aspek). Sasaran KPI: Meningkatkan kualitas serta mind set para guru sebagai pendidik yang profesional, kreatif, terampil, dan menguasai metodologi pembelajaran yang up to date.

3. Penerapan dan pengembangan manajemen sekolah secara profesional. Sasaran KPI: Menerapkan fungsi-fungsi manajemen, metodologi, strategi, dan pengembangan sekolah, serta siswa yang unggul dan berwawasan luas.

 4. KPI yang disesuaikan dengan Visi dan Misi Sekolah Islam Athirah.

Sebagai orang yang berkecimpung di Perguruan Islam Al-Izhar Pondok Labu sejak 1992, bahkan pernah menjadi Kepala Sekolah SMA-nya dan menjabat beberapa jabatan lainnya, tentu saya menguasai langkah-langkah mewujudkan benchmark yang diharapkan Direksi Kalla Group. Di samping itu, Sebagai Kepala KPP di Al-Izhar dan sebagai Program Officer di YCG yang memfasilitasi pengembangan pendidikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan kepada tenaga pendidik dan kependidikan, khususnya peningkatan profesionalitas, peningkatan kapasitas dalam mutu layanan pendidikan (manajemen sekolah efektif, manajemen kelas efektif, metode pembelajaran efektif, dll.) Insya Allah saya mampu merancang dan mengawal perwujudan KPI tersebut di Sekolah Islam Athirah. Di samping tentunya, pengalaman saya sebagai Konsultan Pendidikan di Yayasan Masjid An-Nur Jatibening Bekasi sejak enam tahun lalu, mulai awal rencana dan dibukannya unit SD, tentunya akan menjadi bekal pula.

Berbagai bentuk seleksi pun saya ikuti. Entahlah, tahapan seleksi itu begitu banyak, bahkan pada tahap akhir saya dites dari pukul delapan pagi sampai pukul delapan malam. Meski saat itu fisikku kurang sehat, tetapi tetap saya lakukan dengan penuh semangat dan satu tekad, saya harus mampu menyisihkan kadidat yang lain. Tekad menjadi Direktur Sekolah Islam Athirah bertambah kuat setelah melakukan kunjungan ke Sekolah Islam Athirah di Bukit Baruga dan Kajaolaliddo, 4 Februari 2011 yang lalu. Saya merasa di rumah sendiri. Perbedaan budaya organisasi yang menyolok antara Sekolah Islam Athirah dengan Sekolah Islam Al-Izhar Pondok Labu (dulu tahun 1987 – 1992 bernama Al-Azhar) tercairkan ketika keramahan dan kesantunan orang-orang yang berada di dalamnya mulai saya rasakan. Saya menangkap, ada kerendahan hati yang terbangun sebagai budaya di lembaga ini.

 Tentang rendah hati ini, saya rasakan menjadi begitu kuat lagi ketika sudah bersanding di hadapan Ibu Fatimah Kalla dan Ibu Imelda JK untuk wawancara. Suasana wawancara dibangun dengan begitu kekeluargaan, santai, tetapi serius. Agaknya, bahan presentasi yang sudah saya siapkan sudah dipelajari dengan baik oleh pewawancara sehingga saya tak perlu memaparkannya. Dalam wawancara, yang dominan terjadi justru penggalian pengalaman saya di Al-Izhar. Beliau berdua mengenal betul Al-Izhar, sesekali memberikan kritikan tajam. Dari sini, saya menangkap kesan ada keterbukaan yang digairahkan di Sekolah Islam Athirah. Ya, keterbukaan yang tentu bermuara pada kerendahan hati.

Melihat dan merasakan kondisi di Sekolah Islam Athirah, saya sudah merasa nyaman sebelum Ibu Fatimah Kalla memotivasi saya untuk menyamankan diri dengan lingkungan Makassar, khususnya di Sekolah Islam Athirah. Hal-hal tersebut di atas, membuat saya meneguhkan hati dan termotivasi ingin menjadi bagian dari keluarga besar Sekolah Islam Athirah, secepatnya. Bahkan ketika Ibu Khadijah Z. Achmad bertanya, “Apa yang membuat Pak Edi ingin bergabung dengan Athirah?” Saya jawab dengan serius, tetapi dengan nuansa agak bercanda, “Jatuh cinta pada pandangan pertama dan seperti di rumah sendiri.”

Hemat saya, Sekolah Islam Athirah, akan berubah dan berkembang–secara akselerasi-ketika ada tujuan sebagai arah yang jelas, pedoman, strategi, dan evaluasi untuk mengawalnya dengan tepat. Prosesnya dikendalikan secara berkesinambungan dan sinergi antar fungsi yang ada dalam manajemen. Di samping tentunya harus ada orang yang mengawalnya dengan rendah hati dan penuh semangat. Harapan ada perubahan di Sekolah Islam Athirah, kami sikapi dalam bentuk mengarahkan tujuan Sekolah Islam Athirah menjadi Sekolah Efektif/Unggul dan Sekolah Model, baik tingkat regional maupun nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut kami berangkat dari kesadaran bahwa sukses sekolah tergantung investasi dan aset yang dimiliki. Guru adalah aset utama yang harus dimanusiakan dengan pengembangan kapasitas kemampuan profesionalnya melalui berbagai program sebagai investasi. Di samping itu juga berangkat dari sebuah kesadaran bahwa sekolah adalah aspek kehidupan manusia modern yang sangat dinamis. Manusia modern selalu menginginkan produk yang kualitasnya lebih baik atau bahkan produk baru. Oleh sebab itu, berbagai program yang sudah ada kualitasnya ditingkatkan dan ditumbuhkan pula program-program baru yang mampu menjawab keinginan pelanggan.

Dengan demikian tantangan bagi SDM Sekolah Islam Athirah adalah harus mampu menjawab beberapa hal untuk mencapai sukses, yakni:

1. Merancang dan menghasilkan produk/program yang berkualitas,

2. Memasarkan produk/program sekolah sejak hari pertama siswa belajar hingga hari akhir mereka belajar,

3. Menjadikan sekolah lain sebagai ancaman,

4. Memiliki kemampuan merebut konsumen potensial, dan

5. Senantiasa selalu dalam kondisi terancam.

Untuk beradaptasi terhadap tujuan, tentu dibutuhkan antisipasi perubahan, maka yang dilakukan adalah beberapa tahapan sebagai strategi:

1. Mengubah struktur organisasi dengan jalur fungsi yang lebih progresif dan adaptif,

2. Menetapkan zona perkembangan,

3. Menetapkan program dan pedoman-pedoman,

 4. Menetapkan muatan orientasi tujuan,

5. Menetapkan komitmen budaya organisasi,

 6. Menetapkan pemimpin yang berkualitas dengan tahapan yang demokratis dan mengakomodir keinginan arus bawah. Dengan konsep See-Do-Get, saya optimis, seluruh proses bergulir cepat bagai bola salju mengarah pada tujuan.

Insya Allah Sekolah Islam Athirah tumbuh menjadi sekolah efektif/unggul dan kelak menjadi sekolah model baik di tataran regional maupun nasional.

*Edi Sutarto*

sumber: http://www.mediakalla.com

under: Bulletin POMG

Mangkajang, 19 Mei 2012

Sosialisasi & Penandatangan MoU Penyelenggaraan Pendidikan di PT. Kertas Nusantara oleh Sekolah Athirah

 

 

 

 

 

 

 

Ketua Yayasan Pendidikan Kertas Nusantara, Ibu Diana J Soepartono

 

 

 

 

 

 

 

Dinas Pendidikan Kabupaten Berau

 

 

 

 

 

 

 

Penandatanganan MoU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sosialisasi oleh Bpk.Drs Edi Sutarto M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nara Sumber     :          

1.  Drs. Edi Sutanto Mpd (Direktur Sekolah Atirah Makasar/ Yayasan Yusuf Kalla)

2. Drs Edi Dharmawan (Dinas Pendidikan Kab. Berau)

3. Diana J Soepartono ( Ketua Harian YPKN)

 

Edu Media POMG Kertas Nusantara

under: Bulletin POMG

Mangkajang Site, 7 Mei 2012

Seiring perkembangan pengelolaan pendidikan di lingkungan PT. Kertas Nusantara yang berkeinginan untuk mengelola pendidikan secara mandiri terpisah dari Yayasan Perguruan Cikini yang sudah mengabdikan segenap kepakaran profesionalismenya,kearifan serta keberhasilan mengelola pendidikan untuk PT. Kertas Nusantara kurang lebih 15 tahun, Yayasan Pendidikan Kertas Nusantara telah menjajaki kerjasama Pendampingan dan Alih Kepakaran dengan Sekolah Athirah,  yang merupakan Sekolah Unggulan binaan Kalla Group Makassar yang berbasis Sekolah Nasionalis dengan standar Kurikulum Nasional dengan acuan banding kurikulum Jakarta – Australia International School, Yayasan Al-Izhar & Yayasan Al-Azhar.

Presentasi dibuka Oleh Bp. Edi Sutarto, Direktur Sekolah Islam Athirah, seorang yang mengingatkan kita kepada sosok Pelatih Timnas U23- Coach Rahmad Darmawan.

Lahir di Slawi Tegal Jawa Tengah, Dosen UNJ,UMN,Prasetya Mulya dan Trisakti ini adalah Kandidat Doktor Pendidikan Bahasa UNJ

 

 

 

 

 

 

Presentasi diawali dengan sebuah renungan yang mengajak kita bersyukur akan apapun yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sekecil apapun pemberian itu harus kita syukuri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEBIJAKAN UMUM PROGRAM PENDAMPINGAN & ALIH KEPAKARAN

VISI : Menjadi Sekolah efektif bertaraf  nasional dengan pengelolaan oleh tim manajemen yang andal dan melayani Stakeholders dengan rendah hati

MISI :

1. Menyelenggarakan organisasi dengan nilai-nilai YPKN sebagai budaya kerja

2. Menjamin ketercapaian Visi,Misi dan Motto Sekolah

3. Mengupayakan terciptanya masyarakat belajar.

4. Mengupayakan Sekolah YPKN menjadi sekolah efektif bertaraf nasional

5.Menjadikan seluruh Pemangku Kepentingan (Stakeholders) sebagai mitra kerja yang baik

 

TARGET : Sekolah YPKN menjadi sekolah Efektif Bertaraf Nasional

MENGUTAMAKAN KESEIMBANGAN :

1. Kecerdasan Emosional – EQ

2. Kecerdasan Intelektual – IQ

3. Kecerdasan Spriritual

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbaikan Manajemen berbasis struktur organisasi yang progresif  & Penanaman serta Implementasi nilai-nilai: NASIONALIS,TEGAR, OPTIMIS & PEMENANG

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbaikan dan Penambahan Sarana & Prasarana serta Budaya Kerja yang mengacu pada pedoman dengan Motif Prestatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membuka Jaringan Kerjasama yang Mutualisme

 

 

STRUKTUR ORGANISASI YPKN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan Motto “Manajemen Rendah Hati” diharapkan sebesar spapun masalah yang kita hadapi, dengan bersatu dan bersama-sama, masalah yang besar bisa menjadi kecil

Pengamat Sosial ” Imam Prasodjo” sempat mengungkapkan suatu gagasan yang tidak beliau tulis ” Kalau ingin berhasil mendidik anak, kita harus mendidik anak satu kampung” …… ada filosofi dalam ungkapan tersebut: bahwa pendidikan tidak bisa terlepas dari komunitas masyarakat, sosial lingkungan dan sekolah, semua aspek tersebut tidak bisa dipisahkan dalam melakukan pendidikan kepada anak-naka kita.

Akhir kata, tersirat harapan dari segenap orangtua, bahwa Pendidikan membutuhkan energi yang besar, keikhlasan yang tinggi, kerendahan hati dan kebersamaan semua pemangku pendidikan untuk mewujudkan Pendidikan di Lingkungan PTKN menjadi lebih baik dan semakin lebih baik.

Kita juga tidak bisa menutup mata sebelah atau bahkan menutup hati kita bahwa Yayasan Perguruan Cikini telah menghadirkan keunggulan budi pekerti seiring pencapaian prestasi pendidikan di lingkungan PT. Kertas Nusantara, dengan kepakaran yang teruji, YP Cikini selama kurang lebih 15 tahun telah bekerja keras agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses, mandiri dan berbekal budi pekerti yang luhur di tengah masyarakat dan itu terbukti.

Kehadiran Athirah atau siapapun yang nantinya bersinergi dengan POMG, Manajemen PT KN & segenap stakeholders pendidikan, harapan kita hanya satu, kita ingin anak-anak kita mengenyam pendidikan yang lebih baik,bermutu dan bertaraf nasional bahkan internasional serta menjadikan anak-anak kita berbudiluhur & berjiwa besar sebesar “jiwa-jiwa bapak & ibu guru mereka”.

“Hanya yang memiliki hati dan jiwa yang besar yang bisa melihat sesuatu yang kecil sebenarnya memiliki kebesaran”

Salam,

Edu Media POMG PT.Kertas Nusantara 2012

 

 

under: Bulletin POMG

Mangkajang Site,Berau Kalimantan Timur

18-April-2012

 

KS. Pengurus Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) telah merumuskan program kegiatan bersama Medical Service (PTKN-AMC) untuk melaksanakan penyuluhan & pemeriksaan kesehatan gigi,  sanitasi DBD, donor darah, pembinaan dokter kecil secara rutin.

 

Program kerja praktis sederhana tersebut diharapkan mampu memberikan energi positif kepada semua siswa sejak dini untuk menjaga kebersihan gigi dan pentingnya memperhatikan kesehatan gigi dengan cara menyikat gigi secara benar, menjaga pola makan yang baik, sikat gigi secara rutin sebelum tidur dan memeriksa gigi secara rutin setiap 6 (enam) bulan sekali.

 

Kami segenap Pengurus KS – POMG mengucapkan terimakasih kepada pihak Medical Service PT. Kertas Nusantara, AMC & Drg. Anik serta semua pihak yang membantu terselenggaranya Program Penyuluhan dan Pemeriksaan Gigi kepada siswa-siswa Perguruan Kertas Nusantara Mangkajang

 

Hormat Kami,

 

Handoyo Gunawan

Ketua POMG Sekolah Kertas Nusantara – Mangkajang.

under: Bulletin POMG

Pedoman/Panduan/Juknis BOS 2011

Posted by: | Oktober 19, 2011 | 1 Comment |

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar. Namun demikian dana BOS dimungkinkan untuk membiayai beberapa kegiatan lain yang tergolong dalam biaya personalia dan biaya investasi.
Latar Belakang BOS

UU No 20 tentang Sisdiknas: Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Wajib Belajar 9 Tahun telah tuntas dengan APK untuk SMP/sederajat sebesar 98,11%
PP No 48 tentang Pendanaan Pendidikan secara jelas menjelaskan jenis pendanaan pendidikan dan tanggung-jawab masing-masing tingkatan

Tujuan BOS

Program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu.

Secara Khusus

Menggratiskan seluruh siswa miskin di tingkat pendidikan dasar dari beban biaya operasi sekolah, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta
Menggratiskan seluruh siswa SD negeri dan SMP negeri terhadap biaya operasi sekolah, kecuali pada sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta

Sasaran BOS

Sasaran program BOS adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP (termasuk SMPT), baik negeri maupun swasta di seluruh propinsi di Indonesia.
Program Kejar Paket A dan Paket B tidak termasuk sasaran dari program BOS ini.

Biaya Satuan BOS

SD/SDLB di kota : Rp 400.000,-/siswa/tahun.
SD/SDLB di kab : Rp 397.000,-/siswa/tahun.
SMP/SMPLB/SMPT di kota: Rp 575.000,-/siswa/tahun.
SMP/SMPLB/SMPT di kab : Rp 570.000,-/siswa/tahun.

Biaya satuan ini sudah termasuk untuk BOS Buku

Jenis Biaya Pendidikan

Menurut PP No 48 Tahun 2008:

Biaya Satuan Pendidikan: biaya penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
Biaya Penyelenggaraan dan/atau Pengelolaan Pendidikan:biaya penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, atau penyelenggara/satuan pendidikan yang didirikan masyarakat.
Biaya Pribadi Peserta Didik:biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Biaya Satuan Pendidikan

Terdiri dari:

biaya investasi adalah biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sdm, dan modal kerja tetap.
biaya operasi, terdiri dari biaya personalia dan biaya nonpersonalia.
bantuan biaya pendidikan yaitu dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya
beasiswa adalah bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang berprestasi.

Biaya Personalia dan Nonpersonalia

biaya personalia terdiri dari gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan-tunjangan yang melekat pada gaji.
biaya nonpersonalia adalah biaya untuk bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dll.

Sekolah Penerima BOS

Semua sekolah SD/SDLB/SMP negeri wajib menerima dana BOS. Bila sekolah tersebut menolak BOS maka sekolah dilarang memungut biaya dari peserta didik, orang tua atau wali peserta didik.
Semua sekolah swasta yang telah memiliki ijin operasional yang tidak dikembangkan menjadi bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal wajib menerima dana BOS.
Bagi sekolah yang menolak BOS harus melalui persetujuan dengan orang tua siswa dan komite sekolah dan tetap menjamin kelangsungan pendidikan siswa miskin di sekolah tersebut.
Seluruh sekolah yang menerima BOS harus mengikuti pedoman BOS yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Sekolah negeri kategori RSBI dan SBI diperbolehkan memungut dana dari orang tua siswa yang mampu dengan persetujuan Komite Sekolah.
Sekolah Negeri yang sebagian kelasnya sudah menerapkan sistem sekolah bertaraf RSBI atau SBI tetap di perbolehkan memungut dana dari orang tua siswa yang mampu dengan persetujuan Komite Sekolah, serta menggratiskan siswa miskin.

BOS dan Wajar 9 Tahun Yang Bermutu

BOS harus menjadi sarana penting untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar 9 tahun.
Melalui BOS tidak boleh ada siswa miskin putus sekolah karena tidak mampu membayar iuran/pungutan yang dilakukan oleh sekolah.
Anak lulusan sekolah setingkat SD, harus diupayakan kelangsungan pendidikannya ke sekolah setingkat SMP. Tidak boleh ada tamatan SD/setara tidak dapat melanjutkan ke SMP/setara dengan alasan mahalnya biaya masuk sekolah.
Kepala sekolah mencari dan mengajak siswa SD/setara yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah untuk ditampung di SMP/setara. Demikian juga bila teridentifikasi anak putus sekolah yang masih berminat melanjutkan agar diajak kembali ke bangku sekolah.
Kepala sekolah mencari dan mengajak siswa SD/setara yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah untuk ditampung di SMP/setara. Demikian juga bila teridentifikasi anak putus sekolah yang masih berminat melanjutkan agar diajak kembali ke bangku sekolah.
BOS tidak menghalangi peserta didik, orang tua, atau walinya memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah

Program BOS dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Sekolah mengelola dana secara professional, transparan dan dipertanggung jawabkan.
BOS harus menjadi sarana penting peningkatan pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan akses, mutu dan manajemen sekolah.
Sekolah harus memiliki Rencana Jangka Menengah yang disusun 4 tahunan.
Sekolah harus menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) dalam bentuk Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), dimana dana BOS merupakan bagian itegral didalam RKAS tersebut.
Rencana Jangka Menengah dan RKAS harus di setujui dalam rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan Komite Sekolah dan disahkan oleh Dinas Pendidikan kab/kota (untuk sekolah negeri) atau yayasan (untuk sekolah swasta). Seluruh peserta rapat ikut menandatangani berita acara persetujuan. Secara rinci diatur dalam Peraturan Mendiknas nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan dasar dan Menengah.
BOS tidak menghalangi peserta didik, orang tua, atau walinya memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah

Tanggung Jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah

Pemerintah dan Pemerintah Daerahbertanggung jawab terhadap pendanaan biaya investasi dan biaya operasi satuan pendidikan bagi sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah/pemerintah daerah sampai terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan.
Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah/pemerintah daerah menjadi bertaraf internasional, selain dari pemerintah atau pemerintah daerah, pendanaan tambahan dapat juga bersumber dari masyarakat, bantuan pihak asing yang tidak mengikat, dan/atau sumber lain yang sah.
Pemerintah dan pemerintah daerah dapat membantu pendanaan biaya non personalia sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Tanggung Jawab Peserta Didik, Orang Tuan dan/atau Wali Peserta Didik

Biaya pribadi peserta didik, misalnya uang saku/uang jajan, buku tulis dan alat-alat tulis, dan lain sebagainya.
Pendanaan sebagian biaya investasi pendidikan dan/atau sebagian biaya operasi pendidikan tambahan yang di perlukan untuk pengembangan menjadi sekolah bertaraf internasional.

Dokumen untuk diunduh:

Permendiknas 37/2010-Jukmis Penggunaan BOS 2011

Permendiknas 37/2010-Jukmis Penggunaan BOS 2011 (lampiran)

SE Dirjen Mandikdasmen: Alokasi Dana BOS 2011

SE Mendagri-Mendiknas: Pengelolaan Dana BOS 2011 APBD

SE Mendagri-Mendiknas: Optimalisasi Pemda-Pengelolaan Dana BOS

Permenkeu 247/2010: Alokasi BOS SDS-SDN Kab/Kota

Juknis Laporan Keuangan BOS

Sumber : http://tunas63.wordpress.com/2011/01/12/pedomanpanduanjuknis-bos-2011/ Pic: suaramedianasional.blogspot.com

under: Bulletin POMG

TANJUNG REDEB – Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah dimulai sejakJuli 2005 oleh pemerintah pusat, yang telah berperan dalam percepatan pencapaian program wajib belajar 9 tahun. Sejalan dengan itu Pemerintah Kabupaten Berau sejak 2009 telah melaksanakan Program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) dengan cakupan sasaran program sampai ke jenjang pendidikan menengah.
Demikian pula Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menyalurkan bantuan serupa, namun dikhususkan kepada jenjang pendidikan menengah yaitu SMA/MA dan SMK. Hal ini diharapkan agar program BOS/Bosda ke depan bukan hanya berperan untuk mempertahankan jumlah murid, namun juga harus berkontribusi penting untuk peningkatan mutu pendidikan. Sementara itu, berkaitan dengan teknis dan pengurusan keuangan serta administrasi, melalui Dinas Pendidikan Berau dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) keuangan dan administrasi Bosda bagi bendahara dan sosialisasi Bos pusat di Ballroom Hotel Bumi Segah.
Rohaini, kepala Dinas Pendidikan Berau mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk menyosialisasikan program BOS pusat 2011 dengan mekanisme transfer daerah, juga memberikan bimbingan dan petunjuk teknis pengelolaan dana Bosda Berau dan bantuan keuangan provinsi untuk 2011.
?Pehamanan tentang pengelolaan ini begitu penting, agar para pengurus dapat memahami bagaimana sistem penyaluran dan laporan yang akan diberikan nanti,? katanya. Dikatakannya juga, kegiatan ini mewujudkan kesamaan persepsi antara semua unsur yang terkait dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah baik yang bersumber dari APBN maupun APBD mulai dari perencanaan, penggunaan dan pertanggungjawaban. Sehingga hal ini juga akan meningkatkan kemampuan teknis bendahara Bosda/BOS dalam mengelola keuangan sekolah sehingga tercapai tertib administrasi dan tata kelola keuangan yang baik.
Sedangkan di tempat yang sama, Makmur juga mengatakan kegiatan ini sangat penting, mengingat BOS/Bosda adalah instrumen yang sangat vital dalam menunjang sukses dan lancarnya pendidikan yang diselenggarakan. Sehingga memerlukan manajeman dan pengelolaan yang baik, transparan, akuntabel dan tepat sasaran. ?Tetap lakukan yang terbaik dalam pengelolaan ini, karena program ini dapat dinikmati dan meringankan beban masyarakat dalam menikmati pendidikan,? ungkapnya. Adapun peserta yang mengikuti 458 orang terdiri dari kepala sekolah dan bendahara untuk sekolah dasar, tingkat atas dan menengah atas. Sedangkan Narasumber kegiatan ini berasal dari Inspektorat Kabupaten Berau 4 orang yang akan memberikan penerapan tentang metode presentasi dan penjelasan teknis penatausahaan keuangan dan administrasi dana sekolah.
Sementara itu untuk alokasi anggaran Bosda Provinsi dalam APBD Berau pada 2009 mencapai Rp 3,163 miliar, 2010 Rp 6,643 miliar sedangkan 2011 Rp 6,616 miliar. Adapun penyaluran dana BOS mulai 2011 ini dilakukan melalui transfer ke rekening Kas Umum Pemerintah Daerah yang dilakukan per triwulan. Dengan ketentuan, wajib menyalurkan dana BOS ke masing-masing sekolah paling lambat 7 hari kerja setelah diterima di rekening Kas Umum Daerah.
Hal ini paling tidak mengantisipasi kurang atau lebihnya jumlah berhubungan dengan tahun ajaran baru, maka nantinya alokasi dana BOS dapat dihitung lagi melalui perubahan Anggaran Daerah.
Diterbitkannya aturan baru pelaksanaan dana BOS melalui transfer ke rekening umum Pemerintah Daerah dan adanya kewajiban untuk membuat laporan realisasi pembayaran, maka segala bentuk penyimpangan dana BOS diharapkan dapat dieliminir. (sumber: http://disdik.beraukab.go.id)

BOS: Bupati Makmur menyaksikan Penandatanganan Kesepakatan (MOU) Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPPKD) dengan Pengurus Bosda Berau.

under: Bulletin POMG

Sekolah Efektif & Penerapannya

Posted by: | Oktober 19, 2011 | No Comment |

Sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak mengalami peningkatan secara merata.
Pertama, Lembaga pendidikan banyak difungsikan sebagai pusat produksi. Lembaga pendidikan diumpamakan seperti pabrik. Jika bahan-bahan itu tersedia, maka produk atau barang akan dihasilkan. Demikian pula lembaga pendidikan, jika guru, sarana dan prasarana terpenuhi dengan baik maka secara otomatis mutu pendidikan juga akan terjadi. Cara pandang semacam ini disebut carapandang dengan menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena selama ini sekolah hanya terlalu memusatkan pada input pendidikan (guru, sarana dan prasarana) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan..
Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik (terpusat), artinya banyak urusan sekoalah diatur oleh pusat dan selanjutnya sekolah hanya menunggu keputusan dari pusat. Sekolah kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.
Ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru dan peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Di sisilain, partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas atau ketebukaan sekolah terhadap masyarakat juga lemah sehingga sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orangtua siswa.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, sudah tentu mutu pendidikan kita sulit untuk dikembangkan. Oleh karena itu, harus kita ubah pola berfikir dan kerjanya agar mutu pendidikan yang kita harapkan dapat tercapai.
Gerakan menuju mutu sekolah Efektif
Ada beberapa pemerhati pendidikan dari beberapa negara maju melakukan penelitian. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mutu pendidikan (dalam artikel ini mutu pendidikan adalah mutu peserta didik). Mudah-mudahan dengan mengetahui hasil penelitian ini, kita mempunya cara pandang untuk memahami ciri-siri sekolah yang dapat digolongkan sebagai sekolah efektif dan selanjutnya berusaha menerapkannya di lingkungan lembaga pendidikan kita.
Di Amerika Serikat ada seorang peneliti yang bernama Coleman yang melakukan penelitiannya pada tahun 1966. Hasil penelitiannya menunjukkanan bahwa;
Siswa yang berprestasi tinggi di sekolah, selanjutnya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan hidupnya berhasil ketika mereka sudah dewasa adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya tinggi.
Siswa yang prestasinya rendah di sekolah, tidak mampu belajar di sekolah dan pada akhirnya banyak yang putus sekolah (drop out), sehingga mereka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena mereka tidak mempunyai motivasi belajar. Ternyata mereka itu adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya rendah.
Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1962, di negara lain yaitu di Inggris seorang peneliti pendidikan bernama Robins melakukan penelitian yang sama. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa;
Hampir semua siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya mempunyai profesi atau gelar pendidikan yang tinggi.
Hanya 2% siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya tidak mempunyai kecakapan/pendidikan yang memadai.
Sementara itu di negara Australia ada suatu lembaga yaitu Lembaga Pusat Penelitian Pengukuran dan Evaluasi NWS mengadakan penelitian selama sepuluh tahun dari tahun 1960 sampa dengan 1970. Hasil peneliannya menunjukkan bahwa;
Pendapat atau pandangan orang tua terhadap nilai-nilai pendidikan sangat berpengaruh terhadap prestasi pembelajaran anak di sekolah.
Berdasarkan pendapat atau pandangan orang tua tsb, dapat diketahui sejak awal tentang prestasi siswa di sekolah, kapan siswa drop out, dan jenis pekerjaan apa yang akan ditekuninya ketika meraka dewasa.
Dari ketiga penelitiann tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa; a) Latar belakang keluarga merupakan faktor penting yang menentukan prestasi/ keberhasilan siswa di sekolah, 2) Apa yang dibawa siswa ke sekolah jauh lebih penting daripada proses yang terjadi di dalam sekolah dan 3) Sekolah tidak dapat membuat perubahan yang berarti terhadap siswa karena perubahan itu sangat bergantung kepada kondisi orang tua.
Masalahnya sekarang jika keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh kondisi orang tua berarti peran fungsi sekolah dapat dikatan tidak berfungsi. Benarkah demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita coba menyimak penelitian tentang sekolah sekolah yang bisa mempengaruhi keberhasilan siswa apaun kondisi ekonomi dan latarbelakang pendidikan orang tua. Di negara Inggris ada seseorang melakukan penelitian sekolah-sekolah ini, namanya Rutter. Penelitiannya dilakukan pada tahun 1970 dan hasil penelitiannya menyebutkan bahwa sekolah-sekolah yang mampu mempengaruhi keberhasilan siswanya adalah:
Sekiolah yang menekankan pada pembelajaran
Guru-gurunya merencanakan bersama dan bekerja sama dalam melaksanakan pembelajaran
Sekolah melakukan supervisi yang terarah dari guru senior dan kepala sekolah.
Sementara itu di negara lain yaitu di negara Amerika, Weber (1971), Austin (1978), Brookeover dan Lezotte (1979), Edmonds dan Frederickson (1979) dan Phi Delta Kappa (1980) menyimpulkan bahwa sekolah-sekolah yang mampu mempengaruhi keberhasilan siswa adalah:
Sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat, harapan yang tinggi bagi siswa dan gurunya, lingkungan yang kondusif, kepala sekolah berperan sebagai ‘instructional leader’, kemajuan prestasi belajar siswa sering dimonitor dg melibatkan orang tua secara aktif.
Sekolah-sekolah yang mampu mempengaruhi keberhasilan siswa apapun kondisi orang tuanya sebagaimana tersebut di atas adalah sekolah-sekolah efektif.

Ciri-ciri sekolah efektif

1. Visi dan misi yang jelas
2. Kepala sekolah yang profesional
3. Guru yang profesional
4. Lingkungan belajar yang kondusif
5. Ramah Siswa
6. Manajemen yang kuat
7. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan (PAKEM)
8. Penilaian dan pelaporan prestasi siswa yang bermakna
9. Peran serta masyarakat yang tinggi

1. VISI DAN MISI YANG JELAS

Sekolah mempunyai visi dan misi yang jelas.
Visi dan misi memuat:
√ Harapan tinggi dari siswa dan guru.
√ Dorongan kepada siswa untuk belajar, bekerja, berbuat dan mengeluarkan kemampuan terbaik.
√ Mengarahkan pengembangan intelektual, sosial, emosional dan fisik siswa secara maksimal.
√ Menekankan pentingnya pengembangan kecakapan hidup, nilai-nilai positif dan keterampilan interpersonal.
√ Pengakuan bahwa setiap siswa adalah individu berbeda, mempunyai latar belakang, kebutuhan dan keinginan yang berbeda.
√ Penghargaan dan sambutan yang positif atas keragaman latar belakang siswa.
√ Penekanan bahwa pendidikan adalah usaha bersama antara guru, siswa, dan orang tua.

2. KEPALA SEKOLAH

Memiliki kualifikasi memadai, kompeten, berpengalaman.
Menjalankan kepemimpinan dan visi misi yang jelas untuk membina & memajukan masyarakat sekolah
Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu sekolah.
Mengelola sumber bahan dengan bijaksana.
Mampu bekerja sama dengan guru dan siswa.
Mampu bekerja sama dengan orang tua, komite, masyarakat dan badan terkait lainnya.
Meningkatkan moral staf sekolah
Meningkatkan belajar berkesinambungan dan peningkatan pengembangan staf.

3. GURU YANG EFEKTIF
Kualifikasi memadai dan kompeten
Mempunyai sikap positif dan moral yang tinggi.
Meminta siswa untuk mencapai prestasi tinggi.
Mengembangkan keterampilan berfikir kritis pemecahan masalah, dan kreatifitas siswa.
Peka terhadap kebutuhan siswa.
Menegakkan disiplin efektif
Mengundang partisipasi orang tua.
Melakukan belajar kerkesinambungan dan pengembangan profesi.
Semua staf:
1. Mempunyai keterampilan yang luas termasuk keterampilan dalam mata pelajaran.
2. Dapat bekerja sama dan bekerja sebagai tim

4. LINGKUNGAN YANG KONDUSIF
Lingkungan yang dapat menstimulir siswa untuk betah belajar dan beraktivitas.
Bersih, aman, nyaman dan hangat/ramah.
Tempat bagi semua orang untuk saling memperhatikan dan saling mendukung melalui hubungan yang positif.
Mempromosikan rasa saling memiliki dan kebanggaan terhadap sekolah.
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam organisasi intra sekolah.
Mempunyai aturan-aturan yang sensible, yang jelas dan dapat diterapkan/ dilaksanakan.
Mendukung kebijakan pengelolaan perilaku yang efektif yang ditopang oleh sistem kesejahteraan sekolah.

5. MANAJEMEN YANG KUAT
Memberdayakan potensi dan sumber sekolah secara efektif
Berhubungan program, refleksi dengan masyarakat sekolah dengan efektif
Mendasarkan pada perencanaan, pengembangan program, refleksi diri dan pengambilan keputusan secara kolaboratif.
Mendukung supervisi staf dan pengembangan profesi.
Luwes dalam mengorganisasi pembelajaran siswa dengan cara yang bervariasi.

6. RAMAH SISWA
Memberdayakan potensi dan sumber sekolah secara efektif
Berhubungan program, refleksi dengan masyarakat sekolah dengan efektif
Mendasarkan pada perencanaan, pengembangan program, refleksi diri dan pengambilan keputusan secara kolaboratif.
Mendukung supervisi staf dan pengembangan profesi.
Luwes dalam mengorganisasi pembelajaran siswa dengan cara yang bervariasi.

7. PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, MENYENANGKAN

8. PENILAIAN DAN PELAPORAN PRESTASI SISWA YANG BERMAKNA
Memberi informasi akurat dan jelas tentang pencapaian/prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran dan perkembangan kemampuan sosial siswa.
Mengarahkan guru untuk menggunakan berbagai pendekatan mengajar yang paling sesuai.
Mengidentifikasi masalah belajar siswa dan cara menyelesaikannya bersam-sama dengan orang tua.
Mengijinkan orang tua untuk mengobservasi dan memahami kemajuan belajar siswa.
Melakukan berbagai cara untuk mendukung pembelajaran efektif dan upaya meningkatkan rasa percaya diri siswa.

9. PERAN SERTA MASYARAKAT
Mendorong orang tua untuk berkunjung dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
Menekankan pentingnya kemitraan antara orang tua dan guru untuk memperoleh hasil pembelajaran yang lebih baik.
Sekolah dan guru tanggap terhadap pertanyaan, sudut pandang, kekhawatiran orang tua.
Sekolah membentuk jaringan kerja yang luas dengan mayarakat, termasuk dengan sekolah lain, dunia usaha/bisnis, LSM, atau organisasi pemerintahan yang lainnya.

(Sumber: http://heru-id.blogspot.com  pic:  majalahadinfo.com / seorangpenuhtanya.blogspot.com / smssekolahindonesia.wordpress.com )

under: Bulletin POMG

Sistem pendidikan Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Rekor prestasi belajar siswa yang terbaik di negara-negara OECD dan di dunia dalam membaca, matematika, dan sains dicapai para siswa Finlandia dalam tesPISA. Amerika Serikat dan Eropa, seluruh dunia gempar.

Untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi maternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya, PAUD adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90% pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85% brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).

Kegemaran membaca aktif didorong. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negeri mana pun di dunia. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks. Stasiun TV menyiarkan program berbahasa asing dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.

Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan masuk kelas siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S2 dan dipilih dari the best tenlulusan universitas. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur. Frekuensi tes benar-benar dikurangi.

Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination untuk masuk PT. Sekolah swasta mendapatkan dana sama besar dengan dana untuk sekolah negeri. Sebesar 25% kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbangkan oleh meningkatnya mutu pendidikan.

Dari negeri agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia.

Bagaimana Indonesia? Ada yang berpendapat, keunggulan mutu pendidikan Finlandia itu tidak mengherankan karena negeri ini amat kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa, penduduknya homogen, dan negaranya sudah eksis sekian ratus tahun.

Sebaliknya, penduduk Indonesia lebih dari 220 juta jiwa, amat majemuk terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial. Indonesia baru merdeka 66 tahun. Pendapat senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh dan pemerhati pendidikan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, dan negara-negara lain dibandingkan dengan negaranya.

Yang paling malu AS karena unit cost anggaran pendidikannya jauh melebihi Finlandia tapi siswanya mencapai ranking 17 dan 24 dalam tes PISA, sedangkan siswa Shanghai China ranking 1, Finlandia 2, dan Korea Selatan 3. Soal siswa di Shanghai China juara masih diragukan karena belum menggambarkan keadaan mutu seluruh pendidikan China.

Kalau Finlandia sebagai negara kecil bisa juara mengapa negara kecil yang sudah established seperti Islandia, Norwegia, New Zealand tak bisa? Akhirnya semua mengakui bahwa sistem pendidikan Finlandia yang terbaik di dunia karena kebijakan-kebijakan pendidikan konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti.

Secara umum kebijakan-kebijakan pendidikan China dan Korea Selatan (dan Singapura) juga konsisten dan hasilnya terlihat sekarang. Kebijakan-kebijakan pendidikan Indonesia cenderung tentatif, suka coba-coba, dan sering berganti.

Lalu bagaimana dengan kebijakan pendidikan Indonesia jika dibandingkan dengan Finlandia?

1. Kita masih asyik memborbardir siswa dengan sekian banyak tes (ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid-semester, ulangan umum / kenaikan kelas, dan ujian nasional).

Finlandia menganut kebijakan mengurangi tes jadi sesedikit mungkin. Tak ada ujian nasional sampai siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA mengikuti matriculation examination untuk masuk PT.

2. Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remidial dan masih ada tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia menganut kebijakanautomatic promotion, naik kelas otomatis. Guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas.

3. Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu, tiada hari tanpa PR. Sebaliknya, di Finlandia PR masih bisa ditolerir tapi maksimum hanya menyita waktu setengah jam waktu anak belajar di rumah.

4. Kita masih pusing meningkatkan kualifikasi guru SD agar setara dengan S1, di Finlandia semua guru harus tamatan S2.

5. Kita masih menerima calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan, sedangkan di Finlandia the best ten lulusan universitas yang diterima menjadi guru.

6. Kita masih sibuk memaksa guru membuat silabus dan RPP mengikuti model dari Pusat dan memaksa guru memakai buku pelajaran BSE (Buku Sekolah Elektronik), di Finlandia para guru bebas memilih bentuk atau model persiapan mengajar dan memilih metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya.

7. Hanya segelintir guru di tanah air yang membuat proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif. Terbanyak guru masih getol mengajar satu arah dengan metode ceramah amat dominan. Sedangkan, di Finlandia terbanyak guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui implementasi belajar aktif dan para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Motivasi intrinsik siswa adalah kata kunci keberhasilan dalam belajar. Apakah benda ini melayang, terapung atau tenggelam?

8. Di tanah air kita terseret arus mengkotak-kotakkan siswa dalam kelas reguler dan kelas anak pintar, kelas anak lamban berbahasa Indonesia dan kelas bilingual (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) dan membuat pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah berstandar internasional, sekolah negeri yang dianakemaskan dan sekolah swasta yang dianaktirikan). Sebaliknya di Finlandia, tidak ada pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sekolah swasta mendapatkan besaran dana yang sama dengan sekolah negeri.

9. Di Indonesia bahasa Inggris wajib diajarkan sejak kelas I SMP, di Finlandia bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.

10. Di Indonesia siswa-siswa kita ke sekolah sebanyak 220 hari dalam setahun (termasuk negara yang menerapkan jumlah hari belajar efektif dalam setahun yang tertinggi di dunia). Sebaliknya, siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia. Kita masih menganut pandangan bahwa semakin sering ke sekolah anak makin pintar, mereka malah berpandangan semakin banyak hari libur anak makin pintar.

Ditulis oleh: S Belen Sumber: http://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

under: Bulletin POMG

Akreditasi SMA Cikini Kertas Nusantara

Posted by: | Oktober 17, 2011 | No Comment |

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 5 Oktober 2010, SMA Perguruan Cikini Kertas Nusantara kedatangan tamu asessor dari Samarinda, sebagai bagian dari proses akhir akreditasi sekolah tingkat SMA. Sebagaimana peraturan Badan Akreditasi Nasional, bahwa akreditasi sekolah tingkat SMA dilaksanakan oleh asesor dari propinsi.

 

 

 

 

 

 

 

Akreditasi dilaksanakan meliputi 8 standar mutu pendidikan, sesuai pasal 1 ayat (1) PP No 19 Tahun 2005. Inilah yang menjadi rujukan sebagai Standar Nasional Pendidikan atau SNP.

 

 

 

 

 

 

 

 

Standart tersebut meliputi: (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3)Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik & Tenaga Pendidikan, (5) Standar Sarana & Prasarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian.

 

 

 

 

 

 

 

 

Semoga akreditasi SMA “Cikini” memberikan hasil terbaik setelah meluluskan satu angkatan pembelajaran, yang sudah melanjutkan ke berbagai Perguruan Tinggi Negeri. Baik PTN di di Kaltim maupun PTN di Jawa.

 

Sumber: http://www.smacikininusantara.wordpress.com

 

 

under: Bulletin POMG

Older Posts »

Categories